Rabu, 17 Februari 2016

Hubungan Paham-Paham Besar Dunia dengan Nasionalisme di Asia dan Afrika


Berkembangnya kesadaran kebangsaan yang bertujuan melepaskan diri dari belenggu penjajahan Barat yang terjadi  di Asia dan Afrika dimulai akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Pada umumnya “motor penggerak” dari kesadaran berbangsa di kawasan tersebut adalah kaum terpelajar yang mendapat pengaruh pendidikan Barat. Mereka dengan hasil pendidikan yang diperoleh terbiasa dengan pemikiran-pemikiran baru yang berkembang di dunia saat itu seperti liberalisme, sosialisme, dan nasionalisme.Semangat liberalisme yang mengedepankan kebebasan dan persamaan, sosialisme yang menjunjung tinggi kemakmuran dengan cara bersama serta nasionalisme yang memberi penekanan pada cinta tanah air dan bangsanya mewarnai cara berpikir dan pandangan politik para pemimpinnya pada waktu itu.

 Mulai timbulnya kesadaran berbangsa di kalangan negara-negara di Asia dan Afrika kemudian mendorong tercapainya kemerdekaan lepas dari belenggu penjajahan. Bagi bangsa Indonesia belajar dari timbulnya kesadaran berbangsa tersebut memacu untuk berjuang sekuat tenaga melalui organisasi-organisasi politik yang dibentuknya. Berikut perkembangan nasionalisme di beberapa negara di Asia dan Afrika yang  ber-pengaruh terhadap kesadaran nasional bangsa Indonesia untuk mengusir penjajahan.



1.    Nasionalisme Jepang

Nasionalisme Jepang tumbuh di kalangan masyarakat Jepang yang bertujuan untuk menghindarkan dari pengaruh-pengaruh bangsa Barat yang masuk ke Jepang.

a.    Latar Belakang Lahirnya Nasionalisme Jepang

Sebagai negara kepulauan Jepang merupakan negara dengan bentuk pemerintahan monarkhi konstitusional, mereka menyebut negerinya sebagai “negeri matahari terbit”.

Bermula dari pemerintahan Shogun Tokugawa yang berhasil mengakhiri perang saudara pada tahun 1615 Masehi, lahir kebijakan menutup diri terhadap pengaruh-pengaruh asing terutama Barat disebut dengan politik isolasi atau politik pintu tertutup. Tujuan politik isolasi ini sesungguhnya untuk menghindarkan diri dari pengaruh luar yang tidak baik yang akan membawa kehancuran ekonomi, sosial, dan budaya Jepang.   

Pelaksanaan politik isolasi Jepang menyebabkan bangsa Barat ingin dapat memasuki wilayah Jepang, sehingga mulai Amerika Serikat mengirim utusannya Laksamana Bidlle untuk membuka hubungan dagang dengan Jepang. Meskipun berakhir dengan kegagalan karena ditolak oleh Shogun, Amerika Serikat kemudian mengirim-kan Komodor Mathew C. Perry mendesak Shogun membuka Jepang bagi bangsa asing.

Pada masa pemerintahan Shogun Yoshinabu akhirnya Jepang terpaksa menandatangai perjanjian Shimoda (1854) yang menyebutkan Jepang harus membuka pelabuhan Shimoda dan Hakkodate untuk bangsa asing. Sebagai akibat dari pembukaan pelabuhan-pelabuhan tersebut, maka masuklah bangsa asing ke Jepang.

Berikut akibat-akibat ditandatanganinya Perjanjian Shimoda bagi Jepang.

1)    Munculnya gerakan anti-Shogun, karena sikap shogun terhadap bangsa asing terlalu lemah.

2)    Munculnya pemberontakan Satsuma yang melakukan pembunuhan terhadap orang-orang asing.

3)    Timbulnya gerakan mendukung Tenno dan berusaha mengembalikan kekuasaan pemerintahan kepada Tenno.

4)    Terjadinya Restorasi Meiji.



b.    Restorasi Meiji dan Akibatnya bagi Jepang

Restorasi Meiji merupakan gerakan pengembali-an kekuasaan dari Shogun kepada Tenno (Kaisar). Terjadinya Restorasi Meiji karena didorong beberapa hal berikut.

1)    Bahwa Shintoisme mengajarkan bahwa Tenno adalah keturunan dewa Amaterasu dengan sifat pemerintahannya bersifat abadi. Untuk men-yelamatkan negara maka hanya bergantung kepada Tenno, karena itu pemerintahan dari tangan Shogun harus dikembalikan ke Tenno

2)    Adanya permusuhan di kalangan kaum bangsawan Jepang dengan pihak Shogun

3)    Perjanjian Shimoda dirasa tidak menguntung-kan bagi Jepang, sehingga pecah pemberontakan Satsuma dan Choshu pada tahun 1863.

Setelah kekuasaan Shogun diserahkan kembali ke Kaisar, maka Kaisar Meiji (Mutsuhito) mengangkat sumpah setia (Charter Oath) April 1868.



Untuk mengejar ketinggalan dengan Barat, Kaisar Meiji mengadakan pembaharuan dalam segala bidang.

1)    Bidang politik

a)    Feodalisme dihapuskan.

b)    Kaisar diangkat sebagai kepala negara.

c)    Para daimyo (bangsawan) dijadikan pegawai negeri, tanah negara dibagi dalam banyak prefektur.

d)    Sistem pemerintahan adalah parlementer (sistem pemerintahan model Barat).

e)    Ibu kota Jepang dipindahkan dari Kyoto ke Tokyo (tahun 1868).

2)    Bidang industri

a)    Meningkatkan perdagangan teh dan sutra yang sangat laku di luar negeri.

b)    Membeli mesin-mesin baru yang dibutuhkan dalam mengembangkan industri.

c)    Mengubah ekonomi agraris yang kolot dengan ekonomi industri yang modern.

d)    Mengirimkan para ahli untuk belajar di luar negeri dan mendatangkan para ahli luar negeri masuk ke Jepang, sehingga industri Jepang akan maju melebihi kemajuan dari negara Barat.

3)    Bidang pendidikan

a)    Menerapkan pendidikan ala Barat.

b)    Wajib belajar diberlakukan bagi anak berusia 6 tahun bagi semua penduduk.

c)    Mengirimkan pelajar ke luar negeri untuk belajar teknologi Barat dan setelah kembali untuk membangun memajukan Jepang, sehingga dalam kurun waktu 50 tahun Jepang sudah menjadi negara modern.

4)    Bidang angkatan perang

a)    Angkatan perang dibangun secara modern meniru Barat.

b)    Pembangunan angkatan darat meniru Jerman dan Prancis, sedangkan angkatan laut meniru Inggris.

c)    Adanya wajib militer bagi setiap warga negara berumur 20 tahun.

d)    Kementerian pertahanan bertanggung jawab kepada presiden, sehingga kedudukannya kuat dan akhirnya  menjelma menjadi gunbatsu (pemerintahan diktator militer).



Dalam waktu sekitar 10 tahun setelah restorasi, proses pembaruan di Jepang telah berjalan dengan sangat cepat. Dampak lebih lanjut dari Restorasi Meiji adalah munculnya Jepang sebagai negara Imperialis pada Perang Dunia II. Ajaran Hakko Ichi u  kemudian menjadi dasar bagi Jepang untuk memperluas wilayah kekuasaan yang didorong karena tujuan ekonomi.



2.    Nasionalisme Cina      

Kebangkitan nasionalisme Cina bertujuan untuk mengakhiri pemerintahan monarki dan pengaruh imperialisme bangsa Barat.

a.    Peristiwa-Peristiwa yang Melatarbelakangi Lahirnya  Nasionalisme Cina

1)   Perang Candu (1839- 1842)      

Dinasti  terakhir Cina yang berasal dari luar Cina adalah Manchu yang berasal dari Manchuria. Dinasti ini berkuasa mulai tahun 1644 - 1912 dan dianggap dinasti yang lemah. Pada masa Dinasti Manchu ini mulailah bangsa Barat datang ke Cina. Kedatangan bangsa Barat yang diwakili Inggris kemudian menimbulkan pecahnya Perang Candu. Perang Candu berawal dari masuknya candu yang dibawa oleh Inggris ke Cina, Masuknya candu membawa pengaruh yang jelek bagi orang Cina, sebaliknya bangsa Inggris menikmati hasil dari perdagangan candu. Hal inilah yang  kemudian menimbulkan kesadaran kebangsaan bagi orang-orang Cina. Perang candu sendiri diakhiri dengan Perjanjian Nanking pada tanggal 29 Agustus 1842.

Setelah adanya perjanjian Nanking, banyak bangsa Barat kemudian berdatangan ke Cina dan menuntut untuk mendapatkan hak yang sama, seperti hak berdagang, hak bertempat tinggal dan hak ekstrateritorial.

2)   Pemberontakan Taiping (1850 – 1864)

Pemberontakan ini dipimpin oleh Hung Siu Tswan terhadap kekuasaan Dinasti Manchu. Dalam gerakan yang dipimpinnya, Hung Siu Tswan menyatakan diri sebagai raja Kerajaan Taiping Tien Kuo (kerajaan Surga Damai Abadi). Akibatnya banyak rakyat yang simpati terhadap gerakan tersebut dan selanjutnya membantu melawan Dinasti Manchu. Guna menghadapi pemberontakan Taiping, dinasti Manchu kemudian dibantu oleh Inggris, sehingga berakhir dengan kekalahan dinasti pihak pemberontak.

 Arti penting dari Pemberontakan Taiping sendiri adalah sebagai berikut.

a)      Merupakan pemberontakan sosial dengan tujuan agar pemerintah lebih memperhatikan nasib rakyat

b)      Merupakan pemberontakan nasional yang menginginkan pemerintahan berasal dari bangsa sendiri

c)      Merupakan pemberontakan yang memunculkan ide komunis, yang selanjutnya dikembangkan oleh partai Komunis pimpinan Mao Tse Tung

3)   Pemberontakan Boxer (1900 – 1901)

Boxer adalah sebutan bangsa Barat untuk  memberi nama ilmu bela diri Cina (Kung Fu). Pemberontakan Boxer dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam bela diri Cina yang dibantu oleh pemerintahan dinasti Manchu. Pemberontakan ini disebabkan kebencian bangsa Cina atas keberadaan bangsa asing. Pada akhirnya pemberontakan ini  juga mengalami kegagalan untuk mengusir bangsa asing dari Cina, sehingga pemerintahan dinasti Manchu harus menandatangai Boxer Protokol (1901) yang              salah satu isinya dilarangnya gerakan yang menentang orang asing.



b.    Lahirnya Nasionalisme Cina

 Pemberontakan-pemberontakan bangsa Cina terhadap ke-beradaan bangsa asing meskipun semuanya berakhir dengan kegagalan  tetapi mendorong meningkatnya perlawanan bangsa Cina melalui bentuk lain yaitu melalui pergerakan nasional. Di antaranya muncul pergerakan nasional yang dipimpin oleh  Dr. Sun Yat Sen. Ia adalah figur bangsa Cina yang berpendidikan Barat dan berkeinginan mendirikan negara Cina yang bersifat nasionalis. Timbulnya gerakan nasionalis Cina di bawah Sun Yat Sen disebabkan beberapa oleh beberapa hal berikut.

1)        Lahirnya generasi baru yag berpaham modern dan ber-pendidikan Barat.

2)        Adanya pandangan bahwa pemerintahan Manchu adalah pemerintahan asing yang kolot dan harus diganti dengan bangsa Cina sendiri.

3)        Kemenangan Jepang atas Rusia tahun 1905.

4)        Keinginan untuk memodernisasi Cina.



Sedang yang merupakan sebab khusus adalah ditolaknya izin orang-orang Cina kaya untuk membuka jalu kereta api oleh pemerintahan Manchu yang kemudian justru diberikan kepada bangsa asing.

Beberapa hal diatas membuat kemarahan rakyat sehingga meletuslah  revolusi di kota Wuchang tanggal 10 Oktober 1911 (The Double Ten Day) yang dipimpin Sun Yat Sen. Revolusi ini melahirkan berdirinya Republik Cina yang meliputi Cina Selatan yang berpusat di Kanton dan Cina Utara  yang berpusat di Peking.

Keberhasilan Cina yang kembali diperintah oleh bangsa sendiri, tidak lepas dari ajaran yang dikemuka-kan oleh Sun Yat Sen dengan istilah “San Min Chu i” yang berarti tiga asas kerakyatan yang meliputi nasionalisme (min cu), demokrasi (min cuan), dan sosialisme (min shen).

Ketiga ajaran yang disodorkan oleh Sun Yat Sen itu mampu menggerakkan hati rakyat, bahwa Cina adalah negerinya maka harus diperintah sendiri oleh bangsa sendiri untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera agar tidak mudah dipengaruhi oleh paham-paham yang menyengsarakan rakyat. Pada mulanya Republik Cina hanya meliputi Cina Selatan yang beribu kota di Nanking. Jenderal Yuan Shih Kai yang berkuasa di Cina Utara ikut mendukungnya. Demi persatuan seluruh Cina kedua tokoh itu akan berunding untuk mempersatukan Cina, dengan catatan Yuan Shih Kai yang menjabat presiden. Dengan rela Sun Yat Sen menyerahkannya, dengan pesan asal Cina bersatu.    

Mulai tanggal 15 Februari 1912 Sun Yat Sen mundur dari jabatan presiden, kemudian mendirikan Partai Nasionalis Cina (Kuo Min Tang 1912). Yuan Shih Kai yang memangku jabatan itu berbuat berkhianat, yakni bertindak sewenang-wenang dan berusaha menangkap Sun Yat Sen. Maka Sun Yat Sen terpaksa melarikan diri mengungsi ke luar Cina (USA).

Pada tahun 1916 Yuan Shih Kai wafat, maka Sun Yat Sen mulai membenahi kembali Cina yang sudah dirintis pada masa yang lalu. Untuk perbaikan dan pembaharuan itu didatangkannya ahli negara dari Rusia Lilisan. Pada tahun 1912 didirikan Partai Komunis Cina (Kung Chang Tang). Maka muncul dua partai di Cina. Pada tanggal 12 Maret 1925 Sun Yat Sen wafat, dan jabatannya digantikan oleh Chiang Kai Shek sebagai presiden dan pimpinan partai nasionalis Cina. Maka Chiang Kai Shek mem-punyai tugas menggantikan Sun Yat Sen dan me-lanjutkan Revolusi Cina.

Pada tahun 1926 Lilisan bersama partai komunis menyerang Cina Utara. Namun setelah daerah itu dikuasai, terjadilah persengketaan dengan partai komunis mengenai masalah pembagian tanah yang ditolak oleh Chiang Kai Shek. Persengketaan itu berlarut-larut dan berkembang menjadi permusuhan; Bahkan pada tahun 1931 partai komunis yang dipimpin Mao Tse Tung sulit untuk rujuk kembali. Puncaknya, Mao Tse Tung pada tanggal 1 Oktober 1934 mengada-kan Long March yaitu perjalanan jarak jauh dari Kiangsi menuju Yenan.

Berikut sebab-sebab partai komunis melakukan Long March.          

a.    Menjauhkan diri dari Cina Selatan (Cina nasionalisme).

b.    Mendekatkan diri dengan partai komunis di Rusia.

c.    Daerah utara lebih murni karena penduduknya adalah petani.

 Long March itu menempuh jarak 9000 km diikuti 100.000 orang komunis, yang sampai di Yenan tinggal 20.000 orang. Dalam usaha mempertemukan Chiang Kai Shek dengan Mao Tse Tung terjadilah insiden di kota Sian (1937), yaitu penculikan Chiang Kai Shek untuk dipertemukan dengan Mao Tse Tung dalam rangka me-ngusir penjajahan Jepang.



3.    Nasionalisme India

Bangsa Barat masuk ke India sejak datangnya Portugis yang dipimpin Vasco da Gama pada tahun 1498 di Calicut (Kalkuta).  Setelah itu berturut-turut datanglah orang Spanyol, Belanda,Inggris dan Prancis. Kedatangan mereka bermula dari berdagang namun kemudian berlanjut untuk mencari daerah jajahan.

Sejak tahun 1600 bangsa Barat yang datang ke India adalah Inggris, yang selanjutnya mendirika perusahan dagang yang disebut East India Company (EIC). Sejak Inggris datang, mulailah perluasan kekuasaan Inggris di India melalui tindakan-tindakan yang sangat merugikan rakyat India. Akibat perilaku Inggris tersebut, maka terjadi perlawanan rakyat India terhadap          Inggris.   

a.      Pemberontakan-Pemberontakan di India

Pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di India adalah perlawanan raja-raja Maratha, perlawanan raja-raja Sikh, dan pemberontakan Sepoy.

Pemberontakan Sepoy disebut juga pemberontakan The Great Indian Mutiny dengan tokoh-tokohnya seperti Rani Laksmi Bay,  Nana Sahid, dan Tantia Topi. Pemberontakan ini disebabkan:

1)    Penderitaan rakyat India akibat penjajahan dan penindasan Ingris

2)    Prajurit India (sepoy) diperlakukan tidak adil, misalnya meskipun sama pangkatnya tetapi gaji dan perlakuannya berbeda.

b.      Pergerakan Nasional di India

Pemberontakan Sepoy membawa akibat yang besar bagi India yaitu lahirnya pergerakan nasional di India. Sebab lain munculnya pergerakan nasional India adalah sebagai berikut.

1)      Penderiataan rakyat akibat penjajahan Inggris.

2)      Pertentangan budaya Inggris dengan budaya India.

3)      Rakyat India menuntut status dominion.

4)      Pengaruh kemenangan Jepang atas Rusia tahun 1905.

5)      Orang-orang India tidak diberi kesempatan duduk dalam pemerintahan.

 Pergerakan nasional di India meliputi pergerakan yang bersifat sosial dan politik.

a.    Pergerakan yang Bersifat Sosial

Gerakan ini merupakan reaksi positif terhadap masuknya budaya Barat. Gerakan ini berusaha memperkenalkan unsur-unsur budaya Barat yang baik kepada masyarakat tradisional India. Gerakan-gerakan tersebut antara lain Brahma Samaj, Santiniketan, dan Rama Krisna.

b.    Gerakan Politik

Gerakan politik mengawali kebangkitan nasionalisme India, merupakan gerakan dari seluruh rakyat India. Gerakan ini mempunyai sifat yang lebih luas, mempunyai wawasan kebang-saan dan nasionalisme.

1)Partai Kongres (All Indian National Congress 1885)

Tujuan organisasi ini ialah menuntut gerakan  kemerdekaan India dari penjajahan Inggris. Gerakan ini merupakan kesatuan aksi bangsa India dan berdiri atas prakarsa Allan O. Hume, orang Inggris yang mencintai India. Tokoh-tokoh di dalam organisasi ini antara Motilal Nehru, Tilak, dan Mahatma Gandhi. Pada rapat kongres yang diada-kan di Bombay pada tahun 1886, organisasi ini dipimpin Banerjie. Anggota gerakan terdiri dari orang–orang yang berbeda agama dan aliran politik sehingga pada awalnya organisasi ini bersifat moderat terhadap penjajahan Inggris. Dalam per-kembangannya partai kongres terpecah menjadi dua aliran karena ada tokoh-tokoh yang berpandangan radikal seperti Tilak, Jawaharlal Nehru, Bepin Chandraphal dan Arabindo Ghose sedangkan yang bersifat Moderat dipimpin oleh Banerji.  

2)Moslem League

Pada tahun 1906 kaum muslimin keluar dari Kongres dan mendirikan Moslem League dipimpin Moh. Ali Jinnah, dengan tujuan mendirikan agama Islam yang terpisah dari orang Hindu (India). Berdirinya Moslem League tidak lepas dari pernyataan tokoh radikal partai Kongres yang menyatakan “India adalah Hindu” Pandangan ini kemudian dianggap sebagai ancaman sehingga berdirilah Moslem League. 

Perkembangan nasionalisme India dan usaha mencapai perjuangan kemerdekaan tidak dapat dilepaskan dari figur Mahatma Gandhi. Dalam pandangannya  cita-cita politik harus

dicapai dengan melakukan pembaharuan terhadap sikap manusia-nya yang kemudian akan memaksa keadaan (politik) berubah menurut kehendak manusia tersebut. Gagasan-gagasan Gandhi kemudian tertuang dalam ajaran-ajarannya berikut ini.

1)      Swadesi, yaitu gerakan rakyat India untuk memakai bahan buatan dalam negeri.

2)      Ahimsa, yaitu melawan tanpa kekerasan (dilarang mem-bunuh), artinya tidak berbuat apa-apa yakni mengalahkan lawan dengan tidak melawan.

3)      Satyagraha, yaitu gerakan rakyat India untuk tidak bekerja sama dengan Inggris (gerakan ini disebut juga nonkooperatif).

4)      Hartal, yaitu berkabung karena ada kejadian yang menyedih-kan. Berkabung sebagai tanda protes (mogok). Gandhi juga menuntut Quit India artinya tinggalkan India.

5)      Purna Swaray, yaitu merdeka penuh, yang merupakan tujuan dari perjuangan India.

       

Sikap perjuangan Gandhi tampak pada saat Perang Dunia I berlangsung. Pada saat itu bangsa India dikerahkan untuk membantu Inggris, tetapi setelah Perang Dunia I selesai Inggris mengeluarkan Rowlat Acts yaitu undang-undang yang mengancam bangsa India dengan tindakan-tindakan keras sesuai dengan hukum perang. Apabila bangsa India berani membuat kekacauan politik maka pemerintah Inggris berhak melakukan tindakan represif.   Undang-undang tersebut ditentang oleh Mahat-ma Gandhi dengan mengajak rakyat melaksanakan Satyagraha dan Hartal  yang akhirnya  membawa kerugian besar bagi Inggris. Keluarnya undang-undang tersebut tidak menyurutkan semangat bangsa India. Pada tanggal 13 April 1919 terjadi peristiwa kelabu bagi bangsa India yaitu pembantaian oleh tentara Inggris terhadap orang-orang India yang yang ada di lapangan. Peristiwa tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Amritsar Masacre. Peristiwa ini kemudian membawa kebencian yang semakin memuncak dari orang-orang India ter-hadap pemerintah Inggris. 

Selama Perang Dunia II berlangsung, pemerintah Inggris di India begitu gencar untuk memengaruhi rakyat India agar mau membantunya. Hal ini disebabkan kedudukan Inggris di India semakin sulit. Pemerintah Inggris kemudian menjanjikan satatus dominon dalam British Commonwealth bagi India. Sehingga setelah Perang Dunia II selesai 15 Agustus 1947, India dan Pakistan resmi merdeka dengan status dominion. Pada tanggal 26 Januari 1948 India kemudian mengubah status dominionnya dan memproklamasikan kemerdekaan penuh negaranya dengan nama Republik India.



4.    Nasionalisme Turki

Kebangkitan nasionalisme Turki bukan bertujuan memerdekakan diri dari penjajahan asing, melainkan dari kemerosotan bidang politik, ekonomi, dan sosial. Sejak abad ke-18, Turki terus mengalami kemunduran, kemunduran Turki diawali oleh kekalahan melawan Rusia dalam Perang Krim (Crimea).

a.    Latar Belakang Nasionalisme Turki

Pada masa Sultan Sulaiman (1520-1566) kesultanan Turki mencapai puncak kejayaan ditandai wilayahnya yang luas, teratur, dan keamanan memadai. Namun setelah wafatnya Sultan Sulaiman keadaan kesultanan Turki menjadi berubah. Berikut sebab-sebab Turki mendapat julukan The Sick Man.

1)    Dibukanya Terusan Suez yang ada di wilayah Turki.

2)    Pemerintahan Turki yang dijalankan secara tidak baik dan kolot.

3)    Meningkatnya imperialisme modern.

4)    Adanya sentimen bangsa Barat terhadap kesultanan Turki yang beragama Islam.

5)    Kepentingan negara-negara barat yang saling bertentangan.



Kemerosotan kejayaan Turki terjadi pada masa pemerintahan Sultan Murrad III. Keadaan Turki yang demikian membawa bangsa Barat berlomba-lomba menguasai dan mengambil keuntungan dari lemahnya kesultanan Turki dimulai dari Rusia, Inggris, Austria, dan Jerman. Negara-negara Barat tersebut akhirnya saling bermusuhan untuk merebutkan Turki dikarenakan di antara mereka saling berbeda kepentingan untuk mendapatkan Turki dan daerah jajahannya.

Melihat persaingan bangsa barat yang terus berusaha memperebutkan Turki, muncullah kemudian kesadaran kebangsaan dari orang-orang Turki seperti Rasyid Pasha, Fuad, Namik Pasha, Midhat Pasha, dan Kemal Pasha untuk memperbaiki Turki. 

b.    Nasionalisme Turki Masa Mustapha Kemal Pasha

Dalam bidang pendidikan lahirlah golongan intelektual hasil pendidikan Barat yang menamakan dirinya “Gerakan Turki Muda”. Gerakan ini mempunyai tujuan menyelamatkan Turki dari keruntuhan, mengembangkan rasa nasionalisme, dan menyatukan  semangat kebangsaan Turki sebagai satu negara, satu bangsa, satu bahasa.

Pada masa Sultan Muhamad V berkuasa, Turki terlibat dalam Perang Dunia I. Pada akhir perang tersebut Turki berada pada pihak yang kalah sehingga membawa kekecewaan bagi rakyat karena harus menandatangani Perjanjian Sevres (20 Agustus 1920). Kekalahan Turki ketidakpuasan dari golongan nasionalis yang dipimpin Mustapha Kemal Pasha. Hal ini berakibat pada jatuhnya pemerintahan Sultan Mahmud VI dan dihapuskannya bentuk pemerintah-an kerajaan (kesultanan), sehingga tampillah pemimpin Turki baru yaitu Mustapha Kemal Pasha.

Hal ini menjadi ancaman bagi negara Barat sehingga pecah Perang Turki dengan Sekutu yang berakhir dengan kemenangan Turki dan muncul penandatanganan Perjanjian Lausanne (24 Juli 1923).

Berikut beberapa kebijakan yang ditempuh oleh Mustapha Kemal Pasha setelah berkuasa.

1)    Memproklamasikan Republik Turki  pada tanggal 29 Oktober 1923. Mustafa Kemal Pasha sebagai presiden pertama, sedang Ismed Pasha sebagai perdana menterinya.

2)    Mustafa Kemal Pasha berupaya menjadikan Turki Republik Modern. Melalui kebijaksanaannya memodernkan Turki yaitu:

a)          menyusun UUD baru,

b)          melaksanakan ekonomi etatisme,

c)          melaksanakan rencana pembangunan lima tahun,

d)          huruf arab diganti huruf latin, dan

e)          melaksanakan pemerintahan sekuler.

Sampai akhir hayatnya peran Mustapha Kemal Pasha dalam membangun Turki yang modern sangat besar. Karena itu setelah meninggal tahun 1938 untuk menghormati jasa-jasanya, beliau diberi gelar Attaturk yang berarti Bapak bangsa Turki. 





5.    Nasionalisme Mesir

Mesir adalah daerah yang dikenal mempunyai kejayaan peradaban masa lalu. Hal ini disebabkan karena wilayah Mesir yang kaya dan subur karena letaknya di tepi Sungai Nil. Karena letak dan kekayaannya tersebut membawa bangsa-bangsa Barat berusaha menjadikan Mesir bagian dari wilayah kekuasannya.

Sejak abad ke-16, Mesir adalah salah satu negara di Afrika yang menjadi jajahan Turki. Namun setelah terjadinya penyerangan Napoleon ke Mesir tahun 1798 membawa paham Barat ber-kembang di Mesir yang menolong Mesir melepaskan dari Turki. Setelah pembangunan Terusan Suez selesai maka membawa posisi Mesir amat penting dalam strategi ekonomi, politik, dan per-dagangan dunia saat itu, sehingga bangsa Barat terutama Inggris, Prancis saling berebut untuk menguasai Mesir. 

Di zaman pemerintahan Khadif Ismail 1875, Terusan Suez dijual kepada P.M. Desraeli, sehingga kekuatan Inggris semakin kukuh di Mesir. Setelah diganti oleh Khadif Taufik, Mesir jatuh ke cengkeraman Prancis. Setelah Arabi Pasha menjadi Menteri Pertahanan Mesir 1881, timbul usaha untuk melakukan pemberontakan dan membangkitkan rakyat untuk berjuang.

Pada tahun 1919 kaum nasionalis Mesir memberontak lagi. Inggris akhirnya terpaksa mengeluarkan unilateral pada tanggal     28 Februari 1922, yang isinya sebagai berikut.

a.    Inggris mengakui kedaulatan Mesir.

b.    Inggris berhak atas Terusan Suez, Mesir dijadikan daerah operasi militer, Mesir dipertahankan dari agresi dan intervensi bangsa asing, melindungi orang asing yang ada di Mesir.

c.    Status Sudan ditangguhkan.


Sejak itu dunia internasional menganggap bahwa Mesir telah merdeka, walaupun belum penuh. Pada tanggal 15 Maret 1922, Ahmad Fuad menyatakan dirinya sebagai Raja Mesir. Kaum nasionalis tetap berjuang melawan Inggris. Setelah PD II, Mesir dan Israel menyerbu Palestina (1948), tetapi gagal dan mencoreng muka Mesir di mata dunia. Dengan adanya peristiwa tersebut, para perwira muda di bawah Kolonel Gamal Abdul Nasser menuntut diadakannya pembersihan dalam tubuh pemerintahan maupun angkatan bersenjata. Pemerintah yang berkuasa waktu itu, Raja Farouk mengabaikan tuntutan tersebut bahkan berusaha menangkap penuntut, sehingga pada tanggal 23 juli 1962 terjadi kudeta yang dipimpin oleh Jenderal Mohammad Najib. Tanggal  18 juli 1953, Mesir menjadi Republik dengan Mohamad Najib sebagai presiden pertamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar