728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 26 Februari 2016

    Berdamai dengan Kebenaran dibalik Peristiwa G30S Tahun 1965

    Oleh : Yulius Dwi Cahyono, M.Pd.
    Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah
    Universitas Sanata Dharma 
    Yogyakarta

    Dimuat di Opini Tribun Jogja 30/09/2015

    KEBOHONGAN, meskipun lari secepat kilat pada akhirnya akan ketahuan juga.
    Istilah ini kiranya turut memberi warna dalam Tragedi Kemanusiaan tahun 1965 yang dikenal dengan istilah G30S, yang kita peringati pada hari ini Rabu (30/9/2015).
    Tidak henti-hentinya kontroversi dalam Peristiwa 1965 terus diperbincangkan dan didiskusikan dalam berbagai seminar, sebagai penanda bahwa kebenaran tidak akan pernah berhenti untuk diperjuangkan.
    Pertanyaannya apakah kita berani membuka hati untuk menerima kebenaran di balik peristiwa G30S ?
    Lima puluh tahun yang lalu, tepatnya pada pagi buta tanggal 1 Oktober 1965, enam Perwira Tinggi Angkatan Darat, salah satunya adalah Ahmad Yani, menjadi korban dalam suatu percobaan kudeta.
    Menurut versi Orde Baru, Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah pihak yang paling bertangung jawab atas penculikan dan pembunuhan tersebut.
    Peristiwa ini bermula dari munculnya isu adanya sekelompok Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta untuk menjatuhkan Presiden Sukarno.
    PKI dan pasukannya dituduh menggerakan militer untuk malakukan penculikan terhadap para perwira tersebut.
    Di dalam ingatan kolektif masyarakat hingga kini masih tertanam begitu kuat bahwa dalam peristiwa 1965, PKI melakukan tindakan sadis dengan menculik, menyiksa dan membunuh para Jenderal.
    Ingatan kolektif ini terpatri kuat dalam ingatan melalui film dokumenter karya Arifin C Noer tahun 1984 dengan Judul “Pengkhianatan G30S/PKI”.
    Film ini selalu diputar pada masa Orde Baru setiap tanggal 30 September malam hari dan diwajibkan untuk ditonton, bahkan oleh siswa mulai dari tingkat SD.
    Tidak dapat dipungkiri bahwa melalui film ini muncul agitasi kebencian kepada segelintir pihak yang diberi label antagonis (PKI dan Orang atau Kelompok yang dituduh sebagai simpatisan atau anggota PKI).
    Pada masa pemerintahan Habibie kewajiban tayang film tersebut dihentikan pada september 1998.
    Kejangalan-kejanggalan dan kekritisan sejarawan kemudain bermunculan setelah Orde Baru tumbang. Situasi ini memutar balikkan 360 derajat sejarah G30S versi Orde Baru.
    Film baru karya Jhosua Openheimer dengan Judul The Act of Killing dan The Look of Silence, turut menjadi anti tesis dari sejarah G30S versi Orde Baru.
    Beredar dan diputarnya film ini sempat memicu aksi kekerasan dari sekelompok masa antara lain di UIN Sunan Kalijaga pada 11 Maret 2015 dan USD pada 25 Februari 2015.
    Hal ini menandakan bahwa sebagian besar dari kita masih belum memahami sejarah dan belum mampu berdamai dengan kebenaran sejarah.
    Dalam penulisan sejarah baru peristiwa ini dimaknai penggulingan Presiden Sukarno dengan jalan menyingkirkan kelompok atau orang yang loyal kepada Sukarno.
    Kedua film tersebut semakin membuka tabir gelap siapa sebenarnya dalang di balik peristiwa ini, namun demikian bukan hal inilah yang paling utama, terdapat hal lain yang jauh lebih besar yaitu sebuah peristiwa genosida yang di luar batas perikemanusiaan melanda anak-anak bangsa pasca 1965.
    Genosida terhadap jutaan nyawa anak bangsa ini jauh lebih sadis dari kejahatan PKI yang digambarkan dalam film “Pengkhianatan G30S/PKI”.
    Melalui operasi penyingkiran PKI yang terorganisir, banyak warga masyarakat (laki-laki atau perempuan) yang ditutuh PKI atau dekat dengan PKI dieksekusi langsung, disiksa, diperkosa, ditangkap dan ditahan untuk kemudian pada dini hari dieksekusi.
    Proses peradilan seakan-akan tidak berlaku untuk mereka yang menjadi korban pembantaian massal. Dimanakah hak mereka untuk mendapat perlindungan hukum sebagai WNI ?
    Ketika kita menutup mata terhadap kebenaran sejarah dan selalu menghindari objektivitas sejarah, kita akan terkungkung dan jauh dari rasa kemanusiaan dan keadilan.
    Muncul sebuah pertanyaan: Pengkhianatan terhadap Pancasila terjadi dalam peristiwa 1965 atau justru terjadi pasca1965? Sebuah refleksi bahwa Peristiwa G30S secara tidak langsung telah membabat habis pemimpin-pemimpin bangsa yang potensial setelah Sukarno.


    Link Web Opini Tribun Jogja

    Halaman 1

    Halaman 2


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar :

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Berdamai dengan Kebenaran dibalik Peristiwa G30S Tahun 1965 Rating: 5 Reviewed By: Yulius Dwi Cahyono, M.Pd.
    Yulius DC. Diberdayakan oleh Blogger.
    Scroll to Top